Rendang Menyebar sampai Jauh

Seiring migrasi orang Minang, rendang pun berdiaspora ke mana-mana. Maklum, setiap orangtua Minang pasti akan membekali anaknya yang hendak merantau dengan rendang yang bisa tahan berbulan-bulan. Buat orang Minang, rendang adalah elemen penting untuk bekal merantau di samping pengetahuan agama dan keterampilan silat. ”Orangtua itu, meski sedang tak punya uang, pasti berusaha membuatkan rendang untuk anaknya yang akan merantau. Tradisi itu sudah dikenal sejak orang mulai merantau,” kata Muhammad Nur.

Setelah anaknya tinggal di rantau, para bunda terus mengirimkan rendang dan masakan minang buatannya secara rutin. Yarnis (50) asal Bukittinggi, misalnya, setiap bulan mengirimkan rendang dan sambal lado untuk anaknya yang menuntut ilmu di Jakarta. ”Meski di Jakarta banyak warung padang, tetap saja saya kirim rendang dan sambal lado dari kampung,” kata Yarnis saat akan mengirim rendang dan sambal lado lewat TIKI di Jalan Pemuda, Bukittinggi.

Ketika Yarnis kuliah di Padang, ibunya juga rutin mengirimkan sambal lado, rendang, dan beras dari Bukittinggi, seminggu sekali. ”Rendang dan kiriman lainnya dititip ke sopir travel. Itu sudah kebiasaan orang Minang,” katanya.

Dari sini terlihat, rendang memiliki fungsi sosial sebagai pengikat kekerabatan dan tali silaturahim. Belakangan, rendang memiliki fungsi tambahan, yakni ekonomi, ketika diperjualbelikan dan menjadi ikon warung makan padang yang bertebaran di banyak tempat. Muhammad Nur menjelaskan, warung awalnya didirikan untuk melayani komunitas perantau yang kian banyak. Orang Minang di Jakarta lebih suka memberi nama warung padang daripada warung minang karena Padang sebagai ibu kota lebih mudah diingat konsumen non-Minang.

Rendang paru.(KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Selain tempat makan, warung ketika itu juga berfungsi sebagai tempat penampungan sementara para perantau yang baru datang. Mereka makan dan bantu-bantu di situ hingga mendapatkan pekerjaan lain. Seiring waktu, ternyata masakan minang disukai banyak orang dari etnis lain. Warung padang pun membesar dan berkembang biak di mana-mana. Di Jakarta, warung padang bisa ditemui di hampir seluruh pasar, ruas jalan, tikungan, dan perempatan.

Semakin jauh orang Minang merantau, semakin luas diaspora makanan minang. Pasalnya, di antara perantau ada saja yang akhirnya berinisiatif membuka warung makan padang. Arfianto Wismar Bachtiar, misalnya, tahun 2000 datang ke Qatar untuk bekerja di perusahaan minyak. Belakangan, dia justru mendirikan Restoran Minang Indonesia di Doha. ”Pelanggan kami 85 persen orang Indonesia, sisanya orang asing. Ada pelanggan kami orang Belanda yang sangat suka rendang dan sambal petai,” katanya.

Di luar negeri, rendang tidak hanya jadi milik warung minang, tetapi juga disajikan di banyak restoran Indonesia. Di kawasan Soho, London, misalnya, Resto Nusa Dua milik Firdaus Ahmad dan Usya Soehardjo menyajikan rendang di samping menu masakan Nusantara lainnya. Rendang yang disajikan pun cita rasa pedasnya bisa dibilang otentik. Nyatanya, rendang olahan resto itu disukai mayoritas orang kulit putih. Usya mengatakan, banyak yang baru pertama kali mengenal cita rasa rendang di restonya. Gara-gara makan rendang, beberapa di antara pelanggannya berkunjung ke Indonesia (Kompas, 25/9/2011).

Di 1754 S Hick Street, Philadelphia, AS, ada Waroeng Surabaya milik Hardena Joyo yang juga menyediakan rendang di samping menu Indonesia lainnya. Rendang menjadi salah satu menu paling disukai di sana. Hal yang sama terjadi di sejumlah resto Indonesia di Singapura, Malaysia, Belanda, dan Arab Saudi.

Sajian warung khas Kapau di Pasar Pabukoan, Nagari Kapau, Agam, Sumatera Barat, Rabu (10/7). Nagari Kapau menjadi asal muasal warga pengusaha Warung Kapau yang tersebar luas di pelosok Indonesia.(KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Begitulah, warung makan menjadi agen penyebar cita rasa rendang dan masakan minang lainnya. Dan, agen penyebar rendang semakin beraneka dari tahun ke tahun. Para chef Indonesia, misalnya, banyak yang ambil bagian menyebarkan rendang ke lidah asing. Salah seorang di antaranya William Wongso yang kerap memasak rendang dalam festival kuliner internasional dan jamuan makan untuk orang asing. ”Sejauh pengalaman saya, tiap orang asing yang mencicipi rendang pasti minta tambah lagi,” katanya.

Maskapai Garuda Indonesia beberapa tahun terakhir juga mengambil peran sebagai agen penyebar rendang. Perusahaan itu menyelipkan rendang dalam sajian rijsttafel di kelas bisnis dalam penerbangan internasionalnya. Sejauh ini, rendang menjadi menu favorit penumpang (Kompas, 25/9/2011).

Sejumlah anak muda urban tak kalah agresif menyebarkan rendang sampai jauh. Salah seorang di antara mereka, Reno Andam Suri (41), berjualan rendang lewat media sosial dan internet. Dari dapur sederhana di garasi rumahnya di kawasan Ciledug, Tangerang, Reno memasok rendang ke penjuru Indonesia dan mancanegara. Rendang dikemas cantik dalam kemasan plastik tebal kedap udara hingga bisa bertahan lama dan mudah dikirim ke mana-mana.

”Menjelang hari Lebaran, bisa tidak tidur mengerjakan pesanan rendang,” ujarnya.

Siapa pun bisa memesan rendang bermerek Uni Farah itu lewat media sosial, situs, atau SMS. Dengan begitu, pelanggannya tak lagi dihalangi batas geografi. Ada pelanggan dari Malaysia, Jepang, Iran, dan Irak.

Tidak hanya berjualan rendang, ia juga membuat buku tentang masakan dan budaya Minang. Buku pertamanya laris manis, dan ia sedang menyiapkan buku kedua dalam bahasa Inggris.

Rendang ubi kayu.(KOMPAS/RONY ARIYANTO NUGROHO)

Lewat perantara agen-agen inilah kelezatan rendang dan masakan minang lainnya merembes ke lidah-lidah asing. Mereka lantas mengakui rendang adalah makanan lezat, bahkan terlezat di dunia seperti hasil survei ”The World’s 50 Most Delicious Food” yang digelar CNNGo.Com.

Di titik ini, rendang tidak hanya mengangkat martabat orang Minang, tetapi juga martabat bangsa Indonesia. (Budi Suwarna dan Indira Permanasari)

 

Sumber : http://travel.kompas.com/read/2013/09/11/1206374/Rendang.Menyebar.sampai.Jauh.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *